Sabtu, 17 Juli 2010

Peranan Jamu dan Obat Tradisional dalam Pelayanan Kesehatan Masyarakat oleh Drs. Slamet Soesilo

Pengertian

Pengobatan tradisional adalah suatu upaya kesehatan dengan cara lain dari ilmu kedokteran dan berdasarkan pengetahuan yang diturunkan secara lisan maupun tulisan yang berasal dari Indonesia atau luar Indonesia.

Obat tradisional adalah obat yang dibuat dari bahan atau paduan bahan-bahan yang diperoleh dari tanaman, hewan atau mineral yang belum berupa zat murni. Obat tradisional meliputi simplisia, jamu gendong, jamu berbungkus dan obat kelompok fitoterapi.

Penggunaan

Penggunaan obat tradisional sebaiknya pada penyakit yang memenuhi kriteria prevalensi tinggi, insiden tinggi, tersebar pada area luas, fasilitas pelayanan kesehatan yang rendah dan mudah dikenal oleh masyarakat. Penyakit yang memenuhi kriteria tersebut antara lain adalah demam, sakit gigi, sakit kepala, batuk, diarea, obstipasi, mual, penyakit kulit, cacingan dan anemia.

Penggunaan obat tradisional yang digunakan sebaiknya memenuhi kriteria mudah didapat (jika mungkin dari kebun sekitar rumah atau dapur), dikenal oleh banyak orang, proses penyimpanannya sederhana, mudah digunakan dan tidak berbahaya dalam penggunaanya.

Penyakit atau keluhan yang dapat ditanggulangi dengan tanaman obat antara lain adalah:

1. Penyakit yang dapat diobati secara kausal seperti cacingan malaria dan gigitan serangga.

2. Gejala penyakit yang diobati secara simptomatik seperti batuk, sakit kepala, demam, pegal linu, mual, diarea, sembelit, mulas, sariawan, wasir, gatal, luka baru, bisul, perut kembung, luka bakar ringan, mimisan dan sakit gigi.

3. Keadaan yang diobati secara suportif seperti jerawat, ketombe, melancarkan air susu, menghilangkan bau badan, menghitamkan rambut, menyuburkan rambut, kurang nafsu makan, pemulih tenaga sehabis bersalin, kehamilan dan anemia.

4. Penyakit yang sudah didiagnosis dokter seperti darah tinggi, kencing manis, batu ginjal, penyakit mata, batu empedu, keputihan dan sulit kencing.

Pola Penggunaan Obat

Umumnya lebih banyak masyarakat menggunakan jamu bersama-sama obat modern yaitu 52% di kalangan petani Tangerang dan 64,4% untuk petani dan nelayan di Jawa dan Sumatera Selatan. Yang hanya menggunakan jamu 28% di Tangerang (Sudibyo, 1986), 33,6% di Jawa dan Sumatera Selatan (Muchtarudin, 1976) dan 37,6% Ibu Rumah Tangga di Tapos, Jawa Barat (Sudibyo, 1990).

Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan

Dengan uji statistic, pengetahuan ibu di Tapos merupakan factor utama yang mempengaruhi penggunaan obat tradisional, disusul oleh ketersediaan dan kepercayaan. Sikap mempunyai pengaruh paling kecil pada penggunaan.

Profil Pemakai Jamu

Muchtarudin menemukan bahwa pemakai jamu lebih banyak wanita (54,6%), berumur antara 25-45 tahun, mempunyai pendidikan SD, bekerja sebagai petani atau nelayan, rumah tangga pemakai jamu di pedesaan (48,9%) lebih tinggi sedikit daripada di perkotaan (46,9%) dan hamper separuh (47,9%) anggota rumah tangga minum jamu. Di Tapos pemakai jamu adalah Ibu Rumah Tangga yang tidak bekerja dan pernah sekolah.

Cara Pemakaian Obat Tradisional/Jamu

Konsumen banyak yang membeli daripada membuatnya sendiri. Dari yang beli 48% dibeli di warung umum, 29,4% di warung khusus dan 27% dari jamu gendong (Muchtarudin, 1976). Hal ini berbeda dengan temuan Sudibyo dimana 64,9% mempergunakan simplisia, 23,4% mempergunakan jamu bungkus dan 11,7% mempergunakan jamu gendong. Perbedaan ini disebabkan karena tempat penelitian, dimana Tapos merupakan daerah pedesaan, sedangkan penelitia Muchtarudin adalah di pedesaan dan perkotaan.

Tujuan Pemakaian

Dari kedua penelitian di atas terdapat data yang berlawanan. Muchtarudin menemukan pemakaian jamu terutama untuk menjaga kesehatan, menambah kekuatan dan kecantikan. 70,6% pemakai tidak mempercayai pemakaian hanya untuk pengobatan.

Sudibyo menemukan bahwa di Tapos 70,8% ibu mempergunakan obat tradisional untuk pengobatan dan 29,2% untuk tujuan supportif untuk kesehatan tubuh dan sesudah melahirkan. Hal yang sama ditemukan Sudibyo di Tangerang dimana 82,5% penggunaan untuk menyembuhkan dan 51,25% untuk menjaga kesehatan.

Alasan Pemakaian

Dari tiga penelitian ditemukan bahwa alasan pemakaian adalah karena manjur dan cocok, sudah merupakan kebiasaan keluarga, mudah didapat, murah, lebih yakin akan khasiat.

Frekuensi Penggunaan

Kedua peneliti menemukan bahwa yang mempunyai kebiasaan minum jamu/obat tradisional secara teratur hanya sedikit.

Sumber Jamu

Sumber untuk jamu paling banyak adalah warung umum, kemudian warung khusus, baru jamu gendong.

Peranan

Pada tingkat rumah tangga pelayanan kesehatan oleh individu dan keluarga memegang peran utama. Pengetahuan tentang obat tradisional dan pemanfaatan tanaman obat merupakan unsure penting dalam meningkatkan kemampuan individu/keluarga untuk memperoleh hidup sehat.

Di tingkat masyarakat peran pengobatan tradisional termasuk peracik obat tradisional/jamu mempunyai peranan yang cukup penting dalam pemerataan pelayanan kesehatan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Namun demikian, agar berbagai upaya pengobatan tradisional tersebut dapat benar-benar berhasil guna dan berdaya guna serta untuk mencegah timbulnya dampak akibat upaya pengobatan tradisional, maka perlu adanya upaya pembinaan yang sistematis dan berkesinambungan.

Kebijakan peningkatan peran pengobatan tradisional dalam system pelayanan kesehatan, dapat disarikan sebagai berikut:

1. Pengobatan tradisional perlu dikembangkan dalam rangka peningkatan peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan primer.

2. Pengobatan tradisional perlu dipelihara dan dikembangkan sebagai warisan budaya bangsa, namun perlu membatasi praktek-praktek yang membahayakan kesehatan.

3. Dalam rangka peningkatan peran pengobatan tradisional, perlu dilakukan penelitian, pengujian dan pengembangan obat-obatan dan cara-cara pengobatan tradisional.

4. Pengobatan tradisional sebagai upaya kesehatan nonformal tidak memerlukan izin, namun perlu pendataan untuk kemungkinan pembinaan dan pengawasannya. Masalah pendaftaran masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

5. Pengobatan tradisional yang berlandaskan pada cara-cara organobiollogik, setelah diteliti, diuji dan diseleksi dapat diusahakan untuk menjadi bagian program pelayanan kesehatan primer. Contoh dukun bayi, tukang gigi, dukun patah tulang. Sedangkan cara-cara psikologik dan supernatural perlu diteliti lebih lanjut, sebelum dapat dimanfaatkan dalam program.

6. Pengobatan tradisional tertentu yang mempunyai keahlian khusus dan menjadi tokoh masyarakat dapat dilibtkan dalam upaya kesehatan masyarakat, khususnya sebagai komunikator antara pemerintah dan masyarakat.

Upaya kesehatan di Indonesia dikembangkan berdasarkan pola upaya kesehatan Puskesmas, peran serta masyarakat dan rujukan kesehatan. Peran serta masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu proses agar masyarakat makin mampu untuk menyelenggarakan berbagai upaya kesehatan, baik yang dilakukan diantara masyarakat sendiri atau membantu pemerintah.

Arah Pengembangan Di Masa Datang

Pembangunan kesehatan dewasa ini serta di masa datang berpedoman kepada Sistem Kesehatan Nasional. Dalam system ini ditekankan bahwa pengobatan tradisional yang berhasil guna dan berdaya guna akan dibina, dibimbing dan dimanfaatkan untuk pelayanan kesehatan, sedangkan pengawasan terhadap penyalahgunaan yang merugikan masyarakat secara bertahap ditingkatkan.

Demikian pula dalam Rencana Pokok Program Pembangunan Jangka Panjang bidang Kesehatan (RP3JPK) ada beberapa hal pokok yang ditekankan sehubungan dengan upaya pengobatan tradisional, sebagai berikut:

1. Pembinaan dan pengarahan yang baik tentang cara berobat secara tradisional perlu dilaksanakan terus-menerus.

2. Selain ketiga aspek pengembangan di atas, semua program upaya kesehatan tradisional akan lebih diutamakan pada peningkatan mutu pengobatan dan pelayanan kepada masyarakat terutama masyarakat pedesaan.

Sumber: Agoes,Azwar dan Jacob.1992.Antropologi Kesehatan Indonesia Jilid 1.Jakarta:Buku Kedokteran EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar